MarketShield
Blog

Riset satelit · 28 Oktober 2026 · 6 menit baca

Membaca gunung dari orbit: bagaimana radar Sentinel-1 melihat lahar

Awan dan abu menutupi kamera biasa tepat saat informasi paling dibutuhkan. Radar tidak terganggu keduanya.

Tim MarketShield

Saat gunung api aktif, langit di atasnya sering tertutup awan atau abu. Satelit optik seperti Sentinel-2 dan Landsat kehilangan pandangan justru pada hari-hari yang paling penting. Di sinilah radar apertur sintetis (SAR) berperan.

Radar memotret dengan gelombang mikro

Sentinel-1 memancarkan gelombang mikro pita C dan mengukur pantulannya (backscatter). Gelombang ini menembus awan dan sebagian besar abu, serta bekerja siang maupun malam. Permukaan yang berubah, misalnya alur sungai yang tertimbun material baru, memantulkan sinyal dengan pola berbeda.

Deteksi perubahan, bukan satu foto

Satu citra radar sulit dibaca. Yang kami pakai adalah perbandingan: citra terbaru dibandingkan dengan median beberapa lintasan sebelumnya pada orbit yang sama. Penurunan atau kenaikan backscatter yang signifikan di dalam alur sungai menjadi kandidat endapan lahar atau awan panas.

  • Data diambil dari koleksi COPERNICUS/S1_GRD di Google Earth Engine
  • Hanya piksel di dalam alur sungai hasil turunan DEM yang dihitung, untuk mengurangi alarm palsu
  • Hasil digabung dengan curah hujan GPM IMERG untuk menilai risiko lahar hujan

Batasannya

Jarak antar-lintasan Sentinel-1 di Indonesia berkisar 6 sampai 12 hari tergantung orbit, sehingga radar bukan alat peringatan menit-ke-menit. Karena itu MarketShield memakainya sebagai salah satu fitur dalam mesin risiko, bersama data harian seperti SO₂ dari Sentinel-5P dan titik panas FIRMS.

Radar paling berguna untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: apakah benar ada aliran baru di alur ini? Pertanyaan itu sering muncul di pesan berantai.